memang aku pernah sangat mencintaimu
namun sayang sekali sungguh disayang
aku lupadiri, lupa pakaimataku
lupa lihat diriku
lalai lihat dirimu
dalam dekapku engkau berulah
kepakkepakmu terlalu ingin bebas
bebas terbang
dekapku yang kendor karena kusayangi
kepakkepakmu yang cantik
engkau malah melentik, lepasi diri
merdeka mengepak sayapmu
terbang
terbang
terbang
terbang ke angkasa
seperti dahulu
bersama kawananmu
mencari apa sesukahatimu
menebar pesonawarnawarni
mencandu pujapuji
merindu merdu desahandesahanbuluh
seperti sebelum engkau singgah
di jendelaku, menyapa sepiku
mengajakku mencari keemasan senja
menyeretku ke lengkungcembung pelangi
aku kini menatapmu sepintas saja
engkau terus menarinari, menggirangi diri
masih seperti dahulu, belum berubah
bermimpi kembali seperti pascakepompong
aku beralih pandangi panorama
kebunkebun kelapasawit yang subur
kebunkebun sahang siappanen
kapalkapal nelayan hilirmudik
pantaipantai yang permai
kolongkolong timah yang nganga
gedunggedung burungwalet menjulang
panjipanji serumpunsebalai
bangunanbangunan kolonial
rumahrumahpanggung
di sini aku tetap setia
pada tapakkakiku, pada bumiimaji
yang jendelanya telah kututup
agar tak diserbu deruderu debu
yang menyasarkan tualang kupukupu
bersayap melati dan belati
ada doa untukmu,
juga untuk kupukupu jingga sepertimu,
janganlah pernah kembali, jangan datang lagi
hinggap, bertelur dan menetaskan ulat-ulat
dalam buahhatiku ini
seperti dahulu
dan aku mengampuni dan memaklumimu,
sebab engkau hanyalah kupu-kupu
hanya kupukupu
kupu-kupu
bumiimaji, 10 januari 2003
agustinus wahyono

