Hingga matahari masih
melayang di angkasa seperti kemarin aku melihatmu duduk dekat
jendela sembari menatap perahu-perahu hilir-mudik mempermainkan
lapangan biru nun sampai batas cakrawala. Angin mempermainkan
anak-anak rambutmu. Tatapanmu tak bergeming. Bibirmu beku. Hanya
pikiranmu yang telah berlabuh pada perahu di sana, meski perasaanmu
terjerat jarak terbentang samudera. Dan, aku menemukan remah-remah
rindumu yang berserakan di sekitar pelupuk matamu.
Rindu. Rindu adalah perasaan purba manusia yang tetap indah dalam
keheningan dan kesepian kita. Rindu yang entah pada apa, pada siapa.
Seperti rindumu pada kantata katak di telaga pematang sawah. Seperti
rindumu pada kerumunan bangau membagi wilayah dan jarahan. Seperti
rindumu pada pemandian terbuka yang selalu ramai manakala matahari
mulai keletihan. Seperti rindumu pada belaian nenek ketika purnama
hinggap di atap rumah. Seperti ribuan rindu yang pernah engkau
kisahkan padaku.
Rindu dan perahu. Rindu dan negeri saujana. Rindu dan sanak saudara.
Rindu. Oh rindu. Engkau membiarkan rindu silih berganti menari di
langit, samudera, mercu suar, layar-layar kapal, kepak-kepak camar,
bingkai jendela. Rindu begitu bersemangat menggodai jiwamu, merayu
ragamu. Sepoi-sepoi ia mengipasimu. Sayup-sayup ia membisikimu.
Jiwamu yang lelah berangsur segar. Ragamu yang layu beranjak tegak.
Aku tertegun. Ada apa ini? .
Terlambat! Engkau sudah terbang dari liang jendela yang terletak di
lantai tujuh ini. Tinggal aku sendiri, senyap, menanti saat-saat
engkau kembali dengan membawa kelimpahan kulit rindu yang buahnya
telah engkau habiskan bersama mereka-mereka yang menyulam
benang-benang matahari menjadi sayap-sayap kasih sayangmu.
bumiimaji, 19 desember 2003
agustinus wahyono

