|
Dari jauh rupamu samar-samar
Terlibat
Pada pagi terselaput kabut
Terpahat pada dinding langit
Kau cuma serumpun yang diam
Dengan beberapa binatang dan angin jalang
Yang tak lagi punya kebebasan
Lewat pintu dinding langit itu
Kau tengah menunggu giliran
Dari selembar kertas atau percakapan
Dan bunyi yang menamatkan
Rupa dan diammu
Dari jauh aku menatapmu lamat-lamat
Ada airmata
Bergulir pada ujung daun terakhir
Jatuh bulir demi bulir
Dan terpahat pada dinding langit
Mengabarkan padaku:
Kapan kau datang memelukku
|