|
[ Poetry of Indra
Tjahyadi ]
KELELAHANKU YANG AJAIB
Kelelahanku yang ajaib membekukan
bisikan rumput. Museum-museum musim hujan
menyembunyikan mayat-mayat tikus. Seperti kesumat
yang memutihkan pohon-pohon di ujung kampung,
aku meratap, malam hermafrodit, mengkhianati
bayanganku. Renjana turun bersama salju. Gerhana
gerhana berlintasan memamerkan hantu-hantu.
Segera aku panggil Tuhan, tapi bulan
terus berjatuhan di rambutku. Angin berbalik arah,
menjadi peluru yang mengkilaukan tetesan-tetesan embun.
Aku melankoli seketika, memuja-muja pelacur,
menjelma serakan daun, berkeringan di telapak kakimu.
Seperti sumur-sumur kerinduan yang teramat dalam,
arwahku menghidupkan ilusi belatung kupu-kupu.
Aku berfantasi dengan lindu! Jemariku bermain-main
dengan puting yang kau sembunyikan di sebalik kutangmu.
Tulang-tulang badai menggemeretakkan
jiwaku. Kelak aku akan pergi darimu, seperti mercusuar
yang bercahaya di tengah laut. Kutahu inilah
kebahagiaan terakhir yang tak bakal aku kenang
dari kurus pipimu! Aku kini tinggal pemabuk.
Seratus kelelawar mati busuk! Serdadu-serdadu
mengayunkan batu. Berjalan sempoyongan memanggil
manggil teluh.
2003.
KEMARAU DIAM
Kemarau diam di jiwaku.
Serangkai
bayang-bayang randu tumbang, bersiadzan
dengan pilu. Pahamilah bagaimana mataku rabun,
jumpalitan, begitu cemburu. Aku susuri ketiakmu,
tapi rupanya jalanan makin malam, meski aku
telah tinggalkan dirimu. Sepanjang keriuhan kelu,
mayatku terpencil. Ingus para pejalan bergayutan
di jenggotku.
Seluruh kesumat dan derita memacu
pengetahuanku. Arwahku memanggil namamu,
sementara panorama lebur, selangkah demi selangkah
memudar, menjejali batu. Di dasar pijaran kabut,
aku adalah jenazah bagi setiap hasrat dan kesintalanmu.
Kegembiraanku mengintip tato kupu-kupu di pusarmu.
Malam makin dingin, mendzikirkan diamku.
Penampakan-penampakanku gaib, samun, mencair
hitam bersama salju.
Karena bunga-bunga gugur adalah sihir
yang menghidupkan bangkai-bangkai, juga sajak-sajakku.
Demikianlah dingin meledak bersama shalatku.
Pohon-pohon yang rabun dalam gerimis kabur bersama
gemuruh. Aku wudlu matahari,
meniupkan terompet seribu tahun.
Di hari-hari pagi talkin seratus gerhana menafasiku.
Dunia kelak hanya kelam yang mempasakkan
gaung-gaung. Halimun menghirup mayat-mayat
rumput. Aku kini pelangi. Peneguh riwayat ketelanjangan
letusan-letusan peluru.
2003.
TALKIN SERATUS GERHANA
Bisikan talkin seratus
gerhana
menyabitkan gema. Arwahku yang terpacak sungsang
di antara puncak-puncak pepohonan dihirup hujan.
Semacam akhir pelangi, takdirku memencil.
Hari-hari lewat meneguhkan ketelanjangan.
Aku pungut rumput, tapi arwahku lebih murung
daripada bayangan.Sebagai kenangan, kertap-kertap
lumpur menghalau cuaca. Puting putihmu bersigasing
antara musim dan kutukan.
Maka kulepas kutangmu, seperti belukar
sayatan pada perdu. Surabaya lembab-samun,
menjadi awal bagi segala pemberontakan dan bisu
Jalan-jalan diteguhkan pelacur,
tapi kesepianku memanjang, muram
menuju kematianku. Aku kilaukan tandan
belulang taifun. Demi selongsong peluru
Bisikan-bisikanku kabur bersigaung pada batu
Tapi pahamilah bagaimana kekosonganku
berlutut, saling menghisap mulut. Segenap rasa sakit
di atap-atap gedung dibakar perusuh. Demikianlah
kelaminku sontak menggembung, memimpikan
derita jenazah-jenazah pemulung. Bahkan apabila bibirku
mencucupi susumu. Sedang mayat-mayatku mabuk
dalam seratus kesumat mengkaparkan tahun-tahun.
Kecabulanku menghidupkan patung-patung pembunuh.
Lenganku makin pipih, menyabitkan rerumput.
2003.
ANGIN DARATAN
Angin daratan meliuk.
Bagai burung,
rambut panjangmu tergelung,
menyoraki kabut. Aku memencil serupa tikus.
Bayang-bayangku memudar, diumpati tahun.
Asap gerhana mengepul. Arwahku lari telanjang
menghijaukan daun. Musim-musim tandus.
Sekarat! Susut sepanjang kerak retak lumpur.
Melebihi maut, tapi katakanlah bagaimana
kau cantik, sedang seratus bulan karam
menyiuli nadiku. Keringatku murung. Di ujung pelangi,
darahku kering, bersitetes dengan gema menyerupai guntur.
Dengarlah reqium-requim tatapanku, meski
malam tahajud dan kelam tak juga limbur.
Gedung-gedung dibangun dan runtuh. Seluruh kenangan
dan cumbu bersembunyi di balik celana dalammu.
Aku kini hantu. Puasa dengan jidat tertembus peluru.
Bunga-bunga hanya kutuk, tapi lanskap
seratus kematian ungu. Waktu!
Bangkai-bangkai kelelawar berpekikkan sepanjang gorong
kerongkonganku. Kelak di daerah perbatasan
yang tak dikenal aku memperkosamu. Kaki-kaki
patah arwahku menancapkan cakar-cakarnya yang busuk
di pusat pusar mendung. Segera aku mabuk. Orgasme
tanpa peju. Betapa belatungku hancur. Fantasiku
angus-lebus. Memulai segenap kisah pertempuran
dan derita masa lalu.
2003.
BERBISIK DI DALAM
BAYANGAN
Aku berbisik di dalam
bayangan.
Tangan-tangan arwah ingatanku yang kurus
menjulurkan kegelapan. Dingin pecah,
meleler di selangkangan cuaca. Rumput-rumput
merintih, tapi payudara-payudara gerimis yang buntal
menopang kelam. Masa lalu mendetakkan gempa.
Kota-kota terbakar. Melengangkan jalanan.
Sisa-sisa keringat jamur yang kuyup,
mengharumkan ajal. Gagak-gagak langit cerlang
berjatuhan, menyiulkan ode hitam seratus pertempuran.
Kesunyianku menemukanmu seolah selokan-selokan
kampung yang gasang. Segera aku onani dengan kelamin
tersayat. Pengetahuanku berkhianat pada bulan.
Meditasi kupu-kupu selepas senja memanggil taufan.
Lintang lapar dikacaukan khayalan. Mayatku sungsang,
mengangkat martil, mengayunkan kekosongan.
2003.
MILLENIUM SERATUS
KEMATIAN
Dari rumpun daun yang
mengering,
kristal tangisku yang memudar menciumu
telapak tanganmu. Sepanjang trowongan gerimis
yang jauh, kawah-kawah kesunyian mendidih,
menjelma benua, menghidupkan deru guntur.
Seperti pemabuk, aku hakimi tidurmu.
Arwahku sungsang, mencuri anggur
yang kau sembunyikan di jurang rambutmu.
Seluruh gairah dan derita menuangi gelas-gelas
cawan kerinduanku. Tangis jalan-jalan memecah!
Wujud-wujud kejahatan mengetuki jiwaku.
Jejak-jejak semut mengabur di dinding
dinding lembab kampung. Ingatan rasa sakit
yang dikhusyukan taifun merengkuh ikrar-ikrar liar,
membangkitkan jenazah-jenazah hantu. Seteguk
menara kubangun di tengah laut persis halus
pipimu. Ada yang tumpas, meski di malam-malam
tak berbatas bulan hilang lekas. Diam pasir-pasir getas,
seluruh keperihan meledak-lepas! Bahkan ketika
kutemukan tiang lehermu yang jenjang, sementara
dari masa lalu kusaksikan bagaimana bayang-bayangku
raib, menyerah pada kilat millenium seratus kematian.
2003.
SUREALITA TAHUN-TAHUN
Aku runtuh bersama
bayangan.
Dengan cahaya bulan Desember yang ungu,
pikiranku yang hidup
tanpa ujud menampung
derita lindu. Seperti perunggu,
waktu jadi retak, dan aku terapung-limbung
antara ledakan dan yatim rambutmu.
Menjadi retakan, aku sisipkan seteguk
keindahan dari keterpencilan
yang menyingkap semua rahasia
bunuh diri di tempikmu. Hujan melukaiku
dengan segenap keajaiban dan kutuk. Daun-daun
jatuh, terperangkap antara fantasi dan lumpur.
Renjana awan kelabu membungkus
para pejalan, mengembalikan kesia-siaan, juga gelap
jiwaku. Di sebalik gerimis,
sunyi yang menggeram
telah selesai kutafsirkan sebagai sepotong sajak,
tapi betapa labirin pipimu yang remaja
demikian halus, senantiasa
memberikan percikan pada pilu.
Seolah ingatan yang kerap tertinggal
antara sejarah dan selangkang pelacur, aku kenang
bau mulutmu, ruhku meluncur-samun di sela-sela guntur.
Ini enigma, meski kualami perubahan musim
melebihi kejahatan yang menyala di bawah mendung.
Sungai-sungai mengawali seluruh kisah dan keruh.
“O kulihat ledakan-ledakan di dasar kabut!”
Seribu milenium mayatku hitam, murung,
mengkhayalkan bulan dan gemeretak zakar
surealita tahun-tahun.
2003.
SIULAN HITAM RAUT
KEMATIAN
Tangan-tangan ingatanku
kurus,
menjulur ke dasar waktu. Semalaman angin
yang sedih beku, arwah burung-burung
melayang, melukai tatapanku. Seperti parang
di tangan perusuh, aku begitu menderita, seluruh
pengetahuan membusuk dalam paru-paruku.
Aku bugil, seluruh kejahatan menggayuti pelirku.
Seteguk kekosongan memekik, menyayat urat nadiku.
Kupu-kupu geludhuk mengurai luka
dan kejalanganku. Fantasi-fantasi ranjang terlaknat
mencambukkan narasi seratus ektase perdu.
Aku berlindung di dasar gema, sejarah dan maut
karam, berledakan lewat sajak-sajakku. Syahwatku
samun, menjelma ode patung-patung runtuh di tengah
kabut. Sihir singup taifun mendentam, menjelma kecupan
kecupan hijau yang diharamkan Tuhan pada batu.
Di dasar timbunan salju, dongeng
dongeng kegamangan yang tak terpahamkan
senantiasa mengubur nostalgia abad kunang-kunang
di puncak mataku. Seketika aku berilusi
dengan lindu, rasa ngeri membangun kubah
kubah marmar bunga-bunga dari ciuman dan kutuk.
Aku kini rasul, seluruh kebisuan adalah takdirku.
Kelak kutinggalkan Sorga, meski kiamat sesat, tegak
di jalan nafasku. Kegelapan begitu kekal, membesatkan
siulan-siulan hitam raut kematianku.
1999-2004.
NAFAS HUJAN
Nafas hujan yang
gemetar
menyentuh lenganku. Kesepian cuaca
yang berlari menghidupkan patung
patung sepanjang jantungku. Sungai-sungai
kabut menyentuh kaki-kaki para pembuat
peta, menyimpan sebentuk perahu.
Seperti hari-hari percintaan yang kelak
jadi abu, seluruh rasa sakit mengimpikan
malaikat-malaikat purba berterbangan dalam
taifun. Tatapan-tatapan buta cecurut berjuntaian
di antara kegelapan dan guntur.
Jalan-jalan senyap laut meluap,
membesatkan nafsu. Seekor kunang-kunang
melayang di dataran bulan dan hancur.
Keperihan membisikkan kata-kata baru,
menciptakan labirin kebisuan dan
dentum. Aku serap dongeng-dongeng
retakan tanah, wujud-wujud keremajaan
pelacur memasuki daerah-daerah terlarang
yang didengungkan embun. Aku memekik.
Percumbuan-percumbuan kupu-kupu mengaburkan
seratus mata belatung.
Seluruh teror membangun kubah
kubah samun musim hujan, tapi seteguk
kesengsaraan bulan yang jernih menyayat urat
syarafku. Kesunyian terjaga dari setiap tidur,
iman benda-benda dan pengkhianatan
bertumpuk. Aku rasakan kesunyian,
pengetahuanku raib, menjelma sobekan
sobekan daun. Kerinduan adalah sukma-sukma
muram iklim yang menanti pembunuhan keduanya
serupa waktu. Bertahun-tahun dalam lubuk
cerlang bintang, keterasinganku mencuri roh
burung-burung. Berabad-abad siulan-siulan kilat
meledak, meneguhkan seratus shalat shalawat ajalku.
1999-2004.
KESEPIAN MEMEKIK
Kesepian memekik dalam
tidurku.
Topeng-topeng tua dari simbol-simbol gaib
yang runtuh menjelma ular, mengalun
sepanjang pernafasanku. Aku ikuti
nyanyian-nyanyian angsa. Srigala-srigala
liar mengerang. Udara penuh karat mencium
hidungku. Berabad-abad kesendirian hitam!
Mitos pulau-pulau karam yang mereguk biji-biji
darah kabut mendentam bersama guntur.
Karena langit hanya malam, pesta
pesta musim yang tak terpahamkan mengajakku
bercakap dengan diam. Seluruh keheningan
yang mengerikan diledakkan angkasa.
Kegelapan mata malaikat yang terkapar
bersetubuh di dasar bayang-bayang. Seupama
buntal payudaramu yang bengal, ledakan peluru
seratus tahun yang tak terdengar melayang dalam
ketiadaan. Arwahku mistis, melompati jurang
jurang ajal dan kekejaman. Aroma pertempuran
pertempuran yang ganjil sepanjang ingatan jernih,
menghijau di kedalaman akar.
Tapi, segenap ziarah kekal, meski
di pohon-pohon percintaanku yang tak berdaun,
pantai tak lagi berpenghuni selain kesedihanku.
Hujan-hujan hilang arah. Sukmaku berjalan
sendiri di dasar keterpencilan. O kemabukan
kemabukan! Kehendak hewan-hewan buas! Ibu
dari segenap kenangan! Akulah pelancong sunyi itu,
kasihku! Dalamku segala kemilau hilang. Dan esok
apabila seluruh rasa nyeri mulai diletuskan
serupa geludhuk, doa-doaku hancur. Sekali lagi
membangun halimun, hidup sebagai mayat gerhana,
membakar kelamin perdu.
1999-2004.
|